Tampilkan postingan dengan label Coretan lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan lain. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2015

Gula Kawung dan Pohon Avokad


Gila!!! Membaca kumpulan cerpen terbitan Surah dari Abdullah Alawi dan A. Zakky Zulhazmi dalam bingkisan buku Gula Kawung dan Pohon Avokad saya sendiri EMOSI. Pertama lama tidak mendapatkan kabar dari salah satu penulisnya (A. Zakky Zulhazmi) sudah begitu emosi karena Bung satu ini adalah salah satu kawan nongkrongku ketika menjelang senja di kampus setiap kali hari rabu. teringat emosi saya ketika lagi asik diskusi di kelompokku yang selalu mengulas tentang kebudayaan dan hal ilmiah lainnya, bung satu ini enak cuek diskusi sendiri dengan kelompok Senja-Kala(itu). Tapi emosi yang saya luapkan bukan amarah tapi kebahagiaan karena fenomena seperti itu sangat romantis antara Kebudayaan dan Sastra duduk beriringan tapi beda sudut ketika di pandang dari jarak sekian meter tempat keberadaannya antara garis timur dan garis barat. Kedua emosiku membuncah ketika ada kabar lagi Buku barunya, Brengsek!!! Tapi aku senang ternyata Bung satu ini jalannya masih seirama dahulu tetap berada di garis Sastranya. Dan sebelum mengulas cerpen-cerpennya satu persatu pertama-tama saya ucapka Selamat Bung dan MERDEKA!!!

Rabu, 10 September 2014

KOPI RAKYAT UNTUK MAHASISWA



KOPI RAKYAT UNTUK MAHASISWA
Azami Mohammad*

 
“Kalo ngerokok tapi gak ngopi, kurang mantap rasanya,”. Begitulah guyonan civitas akademis kampus UIN Jakarta di sela-sela waktu nongkrongnya. Hal ini menjadikan antara kopi dan mahasiswa ketika senggang tak pernah dilupakan. Namun, bukan berarti menyeruput kopi di waktu senggang bagi mahasiswa merupakan hal kosong tanpa bunyi dan substansi. Obrolan kopi ala mahasiswa inilah yang kemudian melemparkan berbagai isu dan obrolan menarik seputar sastra, politik, budaya, dan antropologi kampus. Ya, inilah ‘produk kebudayaan’ para civitas akademis dalam mengolah ruang intelektualitas dan artikulasi mereka.
 
Kantin, Koperasi mahasiswa, dan Warung kopi tak pernah sepi dari hiruk-pikuk mahasiswa. Perputaran ekonomi menengah ke bawah ini terus melaju bagaikan roda peruntungan bagi pelaku ekonomi tersebut yang hendak mempertaruhkan dirinya pada Ibukota Jakarta. Sadar atau tidak, fenomena yang terjadi terus-menerus antara ‘kopi’ dan mahasiswa akan menimbulkan dialektika informal antara mahasiswa dan ‘wong cilik’ sebagai pelaku ekonomi kreatif rakyat. Pola komunikasi seperti inilah yang mengkonstruksikan daya kepekaan mahasiswa terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa ini. 

Dalam sejarahnya, gerakan mahasiswa di Indonesia selalu terbentuk dari kondisi sosial-kemasyarakatan hierarki paling bawah dengan para mahasiswa yang sering dikatakan sebagai ‘agent of change’. Runtuhnya rezim orde lama tahun 1966 dan orde baru pada tahun 1998 merupakan hasil dari konsolidasi antara mahasiswa dan masyarakat lapisan bawah. Dalam menggulingkan orde baru mahasiswa dan rakyat bergotong-royong menumbangkan rezim otoriter yang berkuasa selama 32 tahun lamanya.
Namun, hari ini mahasiswa telah terjangkit virus ‘life style’ ke barat-baratan. Pasalnya, Seven Eleven, KFC, dan tempat nongkrong import lainnya sedang merenggut romantisme mahasiswa dan warung kopi. Lihatlah Sevel (sebutan untuk Seven Eleven) yang setiap harinya selalu ramai dikunjungi penikmat produk import hingga 24 jam lamanya. Keramaian tersebut tak menggiring obrolan ringan soal sastra, politik, kritik kebijakan kampus terlebih lagi diskusi. Semua yang ada di dalamnya serba glamor, parlente, dan bersikap elitis. Ya, lagi-lagi ini soal selera, hak tersebut tak dapat digugat dan merupakan bagian dari dinamika. Singkirkan soal ‘idealisme’, ‘hedonisme’ atau apapun itu, sebab mungkin ini hanya soal selera dan pilihan.

Mahasiswa tak lagi ingin turun ke jalan, bergeliat dengan diskusi dan kajian yang kian terpinggirkan. Lucunya, hal ini terjadi setelah kebebasan berdiskusi telah direnggut kembali dari rezim otoriter orde baru. Seperti yang digambarkan oleh W.S Rendra dalam puisinya ‘Sajak Mahasiswa’ yang mengatakan “kampus diserang oleh tank baja, kata-kata dilawan kekerasan” betapa kebebasan yang secara instrument harapannya dicita-citakan oleh para mahasiswa selalu di marking oleh orde baru. Sungguh suatu hal yang signifikansinya mengarah kepada pola budaya intelektual yang jauh panggang daripada api.

Dewasa ini, kita bahkan nyaris tidak melakukan apa-apa terhadap kegamangan tersebut. Acuh-tak acuh, menggerutu, apatis, bahkan menganggap hal itu merupakan sebuah kewajaran yang terus-menerus dimaklumi. Bersikap tendensius dan menghujat tidaklah baik dalam etika civitas akademisi, yang ada hanyalah kritisisme. Maka, lagi-lagi penulis mengatakan ini hanyalah sekedar selera dan pilihan. Persoalan mahasiswa dan kopi rakyat, entahlah mungkin hanya akan ada nostalgia dan lembaran manuskrip romantik untuk membuka lembaran tersebut di kemudian hari.

*Penulis adalah Penikmat Kopi Warkop

Senin, 03 Februari 2014

PERNYATAAN SIKAP KOLEKAN (Komoenitas Lesehan Keboedajaan)



PERNYATAAN SIKAP KOLEKAN (Komoenitas Lesehan Keboedajaan)

Berkaitan dengan terbit dan beredarnya buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH (KPG, 2014) susunan Tim 8 yang terdiri dari Jamal D. Rahman (Ketua), Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah (anggota), kami, atas nama KOLEKAN (Komoenitas Lesehan Keboedajaan) Dengan ini kami menyatakan MENOLAK KERAS atas peredaran buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH dan Mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk menunda atau menghentikan sementara waktu peredaran buku tersebut, serta pencantuman nama Denny J.A dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH.
Penolakan kami didasarkan pada alasan-alasan berikut:

1. Klaim assersif. Pada judul buku dituliskan 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH, sementara tulisan-tulisan dalam buku ini tak menjelaskan kesuperlatifan pengaruh tokoh-tokoh tersebut, yang artinya tak terdapat perbandingan-perbandingan dengan pengaruh-pengaruh tokoh sastra lain dan apa yang membuat pengaruh tokoh-tokoh tersebut mengatasi yang lain secara kuantitatif dan kualitatif. Beberapa tulisan dalam buku itu mengakui kesulitan membuktikan kesuperlatifan tokoh yang dibahas. 

2. Menyesatkan public dan kerancuan Tim 8, karena Tim 8 tak memiliki definisi dan kriteria yang jelas dalam memilih tokoh sastra. Tim dinilai tak dapat membedakan antara afek, efek, dampak dan pengaruh tokoh-tokoh yang dipilih.

3. Indikasi konflik kepentingan yang memasukkan promotor buku tersebut, Denny J.A., sebagai salah satu tokoh sastra paling berpengaruh.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat, hal ini bukan atas dasar kebencian personal dan pemasungan hak dalam berpikir, berpendapat, dan berekspresi atau sebagai upaya meminjam tangan kekuasaan untuk memberangus hak individu dan warga negara, melainkan sebagai tuntutan untuk meminta pertanggungjawaban akademis dan semoga menjadi perhatian bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk mengadakan atau memfasilitasi pengkajian ulang isi buku tersebut, yang di dalamnya termasuk pengujian validitas metode pemilihan 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Yang dimaksud sebagai pengujian validitas metode pemilihan di sana adalah pengujian terhadap ketepatan prinsip-prinsip metode, peraturan atau kriteria, postulat atau dalil, bukti, pembuktian, dan argumentasi.

Ciputat, 3 Februari, 2014
#Pernyataan Sikap KOLEKAN
#Ciputat Menolak Pembodohan


Seluruh Anggota KOLEKAN Ciputat
1. Saeful Bahri (Ketua KOLEKAN Ciputat)
2. Muhammad Nur Azami (Mahasiswa UIN Jakarta)
3. Sohiman (Mahasiswa UIN Jakarta)
4. Juansyah Rinaldy Situmorang (Mahasiswa UIN Jakarta)
5. Husnul Fikri (Mahasiswa UIN Jakarta)
6. Syifa Fauziah (Mahasiswi UIN Jakarta)
7. Rittah Riani Romdin (Mahasiswi UIN Jakarta)
8. Ahmad Rizal (Mahasiswa PT. IQI)












Minggu, 12 Mei 2013

ORASI DALAM HAUL PRAMOEDYA ANANTA TOER KE-7

Gambar dari: www.wartamadani.com


Oleh Ade Faizal Alami

Salam Kebudayaan!!!

Teman-teman yang saya cintai,
Tidak bisa dipungkiri, Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan besar yang dimiliki bangsa Indonesia. Karya-karyanya dengan sangat gamlang bukan saja memotret sejarah dan kondisi social bangsa Indonesia, tetapi juga secara tidak langsung bagian-bagiannya mengajarkan kita bagaimana manusia harus hidup berbangsa. Bagaimana penindasan harus dilawan, bagaimana kita menolak takluk terhadap segala bentuk penindasan.

Namun, seperti yang sama-sama kita ketahui, hampir semua karyanya dilarang beredar oleh penguasa. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah yang diterrbitkan oleh Hasta Mitra, dilarang beredar oleh pemerintah Orde Baru berdasarkan Surat Nomor: Kep-036/J.A/5/1986. Rumah Kaca dan Gadis Pantai juga dilarang beredar oleh pemerintah otoriter berdasarkan Surat Nomor: Kep-061/J.A/1988. Begitu pula karya lainnya seperti Nyanyi Suci Seorang Bisu, Percikan Revolusi Subuh, dan masih banyak lagi.

Teman-teman yang saya cintai,
Tulisan adalah peluru, begitulah menurut Pram. Dan itu bisa kita lihat dalam karya-karyanya. Melalui mulut berbagai tokoh dalam karya tetraloginya, Pramoedya Ananta Toer menembakkan peluru bagi siapa pun yang membacanya. Bagaimana metode belajar? Kata Pram, “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”,
“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati”.

Tapi ingat, ada penyakit yang menjangkiti para terpelajar, para mahasiswa, para intelektual muda seperti kita. Yaitu, menganggap rakyat jelata tidak lebih pandai daripada kita. Dan itu sudah diingatkan Pram, “Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai”.

Sebagai bagian dari para terpelajar, Pram lagi-lagi menyadarkan kita melalui tokoh Jean Marais dalam Anak Semua Bangsa: “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu” (Anak Semua Bangsa, hal. 55), kalimat itu tentu saja menampar mahasiswa yang sok intelek, terjun ke tengah-tengah rakyat dengan bahasa-bahasa yang sok ilmiah, mengutip teori-teori filsafat dan tokoh-tokoh terkemuka. Padahal menurut Pram, “Kau harus, harus, harus bicara pada mereka dengan bahasa yang mereka tahu.”

Jika rakyat belum terdidik, maka sebagai seorang terpelajar, kau berkewajiban mendidiknya: “Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?”. Masih melalui Jean Marais dalam Anak Semua Bangsa halaman 52, kata Pram, “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”.

Teman-teman yang saya cintai,
Belajar itu bukan hanya di bangku-bangku kelas, dengan layar monitor, LCD modern, atau pun hanya menghadap proyektor dan mendengar cuap-cuap celoteh dosen. Bukan hanya di gedung-gedung kampus, berjalanlah di tengah-tengah petani, di hiruk-pikuk pasar tradisional, di tengah kesulitan rakyat untuk mengasah hati kita. Melalui tokoh Frischboten, Pram berujar: “Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya”. (Frischboten, 291)

Ilmu pengetahuan memang pada dasarnya baik, hanya bagaimana kita mengggunakan pengetahuan yang kita punya. Melalui tokoh Khou Ah Soe, seorang angkatan muda Thionghoa yang dipaparkan Pramoedya dalam Anak Semua Bangsa, menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan bagaikan pisau, tergantung siapa yang memanfaatkan. “Dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu pengetahuan modern binatang-binatang yang sebuas-buasnya juga bisa ditundukkan. (Khouw Ah Soe, Anak Semua Bangsa, hal. 90).

Oleh karena itu, sebagai kaum terpelajar yang oleh Antonio Gramschi disebut sebagai intelektual organis, intelektual yang menjaga idealismenya, intelektual yang tidak menggadaikan pengetahuannya untuk membodohi rakyat, kita harus sadar diri: “Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain, tapi harus semakin mengenal batas”, kata Pram. (Bunda: Bumi Manusia, hal. 138)

Sebagai terpelajar, kita seharusnya malu. Dari dalam kuburnya, melalui karyanya, Pramoedya menyindir para terpelajar. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” (Minke: Rumah Kaca, hal. 352). Melalui ucapan Nyai Ontosoroh kepada Minke, Pram juga berujar: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, hal. 84)

“Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian” (Pangemanan: Rumah Kaca, hal. 138). “Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jendral?” (Von Kollewijn: Jejak Langkah, hal. 32)

Begitu pentingnya menulis, dan dahsyatnya kekuatan sastra, sehingga melalui Magda Peters dalam Bumi Manusia, Pramoedya pun menyindir para terpelajar yang tidak suka membaca karya sastra, “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” (Magda Peters: Bumi Manusia, hal. 233). Dan “suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau (hanya) sastra lisan.” (Magda Peters: Bumi Manusia, hal. 233)

Teman-teman yang saya cintai,
Kita adalah generasi yang hidup dalam gemerlap teknologi, hidup dalam riuh zaman modern. Yang kata Minke, “...dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu (yang) dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya.” (Minke: Jejak Langkah, hal. 2)

Atau melalui Miriam de la Croix dalam Anak Semua Bangsa, Pramoedya bertutur, “inilah zaman modern, Minke, yang tidak baru dianggap kolot, orang tani, orang desa. Orang menjadi begitu mudah terlena, bahwa di balik segala seruan, anjuran, kegilaan tentang yang baru, menganga kekuatan gaib yang tak kenyang-kenyang akan mangsa. Kekuatan gaib itu adalah deretan protozoa, angka-angka, yang bernama modal.” (Miriam de la Croix: Anak Semua Bangsa, hal. 107)

Kita hidup dalam era kolonial yang telah bermetamorfosis. Kolonialisme yang telah berubah menjadi lebih halus namun lebih mengerikan, menguasai dan mengeruk sumber daya alam dari sebuah negeri atas nama Undang-undang yang dibuat pribumi. Wajar jika Pram bertutur, “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.” (Jalan Raya Pos, Jalan Daendels)

Memang kata Minke dalam Rumah Kaca, “Sejak zaman nabi sampai kini, tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya, kecuali mereka yang tersisihkan karena gila. Bahkan pertama-tama mereka yang membuang diri, seorang diri di tengah-tengah hutan atau samudra masih membawanya pada sisa-sisa kekuasaan sesamanya. Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik.” (Minke: Rumah Kaca, hal. 420)

Dalam tahap inilah seorang terpelajar memilih posisi, berjuang membebaskan rakyat dari perbudakan modern, atau ikut-serta dalam sistem perbudakan itu sendiri. “Bukankah tidak ada yang lebih suci bagi seorang pemuda daripada membela kepentingan bangsany?” kata Pram. Dan “kau harus bertindak terhadap siapa saja yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekali pun hanya segumpil batu yang tergeletak di bawah jendela. Bukan karena batu itu sangat berharga bagimu. Azasnya: mengambil milik tanpa izin, pencurian; itu tidak benar, harus dilawan.”

“Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.” (Gadis Pantai, hal. 121)

Memang teman, “Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan,” (Kommer: Anak Semua Bangsa, hal. 199). “Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena, manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” (Minke: Rumah Kaca, hal. 436)

Bukankah “selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.” (Anak Semua Bangsa, hal. 204)

Teman-teman yang saya cintai,
“Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”. “Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain”. “Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”, kata Pram.

Penjajahan gaya baru bukan hanya mengeksploitasi sumber daya alam bangsa kita, tapi juga mencabik-cabik kearifan lokal bangsa kita. Masa modern adalah masa di mana sebuah bangsa kebingungan identitas. Terlebih bangsa-bangsa bekas jajahan. Di mana-mana kita melihat para pemuda, bahkan terpelajar, yang begitu sangat terpesona dengan gemerlap budaya Barat, ditambah virus ‘alay’ Korea.

Dari bocah hingga orang dewasa, ada saja yang begitu bangganya mengenakan segala sesuatu yang berbau Barat. Sampai-sampai hampir setiap kalimatnya harus disisipi istilah-istilah bangsa asing. “Kowé kira, sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!”, kata Pram.

Memang pada era ini, bangsa Baratlah yang unggul dalam teknologi. Tapi Pramoedya melalui mulut Nyai Ontosoroh dalam Anak Semua Bangsa buru-buru mengingatkan, “Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap, Nak, abadi: yang kolonial, dia selalu iblis.” (Nyai Ontosoroh: Anak Semua Bangsa, hal. 83)

“Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dengan kehebatannya – kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu pengetahuannya.” (Anak Semua Bangsa, hal. 77)

Bagaimana cara menguatkan kepribadian bangsa kita? Baca sejarah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Dan kata Pram, “Kalau orang tidak tahu sejarah bangsanya sendiri – tanah airnya sendiri – gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri.” Oleh karena itu, para terpelajar yang sudah ‘tercerahkan’, mempunyai kewajiban moril untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya. “Dan bukankah satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada yang kegelapan dan memberi mata pada yang buta”.

Kaum terpelajar mempunyai kewajiban moril untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa, untuk membebaskan rakyat dari segala penindasan. Kecuali jika kalian adalah mahasiswa bebal. “Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru – indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiwa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.” (Rumah Kaca, hal. 39)

Dan akhirnya, umat manusia harus berterima kasih kepada wanita. Kata Minke dalam Jejak Langkah, “Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaran-Mu. Semua puji-pujian untuk-Mu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat, dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.” (Minke: Jejak Langkah, hal. 430)

Dan kata Pangemanann, “Pada akhirnya persoalan hidup adalah persoalan menunda mati, biar pun orang-orang yang bijaksana lebih suka mati sekali daripada berkali-kali.” (Pangemanann: Rumah Kaca, hal. 443).

Minggu, 15 Mei 2011

Mahasiswa Seribu Desa

Herry

Dalam rangka menyambut ulang tahun Komoenitas Lesehan Keboedajaan (KOLEKAN) yang ketiga, maka dibentuklah kepanitiaan untuk mengurus acara ulang tahun komunitas ini. Namun, pada acara ulang tahun kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya KOLEKAN hanya melibatkan organisasi-organisasi yang berhubungan dengan budaya atau organisasi kajian, pada ulang tahun kali ini KOLEKAN mencoba mengundang organisasi primordial yang terdapat di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan untuk terlibat di dalam acara tersebut. Tujuannya untuk mengikat silaturahmi antar organisasi, saling sosialisasi antar organisasi primordial dan menjaga hubungan harmonis antara manusia.

Tema besar pada ulang tahun kali ini dinamai "Mahasiswa 1000 Desa". Acara ini dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Mei 2011 di sekitar Student Center UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Sehubungan karena mahasiswa yang ada di universitas Islam terbesar di Indonesia ini mayoritas berasal dari daerah atau lebih tepatnya mempunyai kampung halaman, maka acara ini pun menyajikan beberapa kebudayaan yang dimiliki oleh tiap-tiap organisasi primordial.
KOLEKAN yang pada kesempatan ini menjadi penggagas dalam acara "Mahasiswa 1000 Desa" awalnya mengumpulkan tiap-tiap organisasi primordial untuk hadir guna membahas acara ini. Tanggapan dari organisasi-organisasi primordial pun berbeda-beda, mulai dari antusias simpatik sampai dengan kecurigaan pada awalnya, kecurigaan akan hal yang membawa kepentingan, terutama kepentingan politik, entah politik kampus atau politik Negara. Kumpulan pertama diadakan di basecamp Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) yang dihadiri oleh Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA), Silaturahmi Mahasiswa Pati (SIMPATI), Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK), Keluarga Mahasiswa Serang (KEMAS), Himpunan Mahasiswa Cirebon Jakarta Raya (HIMA-CITA), dan Komoenitas Lesehan Keboedajaan (KOLEKAN) sendiri. Dalam kumpulan ata rapat ini, membahas kontrak sosial yang didalamnya berisi tentang kontrak yang disepakati antara KOLEKAN dengan organisasi primordial, tujuannya untuk menghindari kesalahpahaman serta tidak adanya kepentingan dari luar. Pada rapat selanjutnya membahas rangkaian acara yang akan ditampilkan pada waktunya. Dan acara hari jadi Komoenitas Lesehan Keboedajaan ini diketuai oleh Shalahuddin Al-Ayyubi (Yubi) dari divisi Litbang KOLEKAN dan Presiden BEMJ Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Oke. Mari kita simak rangkaian acara pada hari pertama yaitu tanggal 17 Mei 2011. Pada tanggal tersebut ditampilkannya pameran foto oleh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Kalacitra dan Kokangan (Komunitas Kamera Tangerang Selatan). Pameran foto ini dipajang mengelilingi tiap sudut aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, profil-profil organisasi primordial juga dipajang berdekatan dengan pameran foto tersebut. Profil-profil organisasi primordial tersebut di antaranya, yaitu Himpunan Mahasiswa Cirebon Jakarta Raya (HIMA-CITA), Keluarga Mahasiswa Minang (KMM), Silaturahmi Mahasiswa Pati (SIMPATI), Keluarga Mahasiswa Serang (KEMAS), Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA), Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO), Himpunan Mahasiswa Labuhan Batu (HIMLAB), Keluarga Mahasiswa Islam Karawang (KMIK), Ikatan Pemuda, Pelajar & Mahasiswa Kuningan (IPPMK), Keluarga Mahasiswa Subang Jakarta Raya (KEMBANG JAYA), Komunitas Mahasiswa Sumatra Utara (KMSU), Persatuan Mahasiswa Indramayu (PERMAI AYU), Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh (IMAPA), Persatuan Mahasiswa Kediri (PERMADI), Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB), Komunitas Mahasiswa Padangsidimpuan dan Sekitar (KOMPAS), Keluarga Mahasiswa Majalengka Jakarta Raya (KEMKA JAYA), Komunitas Mahasiswa Cilegon (KMC), Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT), Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK), dan Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya (HIMALAYA). Masih pada hari yang sama diadakan pula dialog organisasi dengan tema “Peran Organisasi Primordial dalam Menghadapi Globalisasi dan Menjaga Kebudayaan (Organisasi Daerah dan Nilai-nilai Nasionalisme)”. Pembicara pada dialog organisasi ini di antaranya Anas Shafwan Khalid (Komunitas Saung), Jamaluddin Muhammad (Komunitas Seniman Santri), Hendri (Sanggar Altar).

Di hari kedua yaitu tanggal 18 Mei 2011 di aula Student Center, diadakan pentas seni tari dan musik seperi Tari Saman, tari Bali, tari Jaipong, tari Yapong, dan Doger. Ada pun yang membawakan seni-seni tersebut ialah Yang Penting Ushuluddin (Yapentush), Jomlo Kebatinan, 3 Tengki, Sanggar Tonggak, Sanggar Altar, Senjakala, Mata Budaya, Forum Lingkar Pena, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UIN, Himpunan Qori’ dan Qori’ah Mahasiswa (HIQMA), Pojok Seni Tarbiyah (POSTAR), dan lain sebagainya.

Pada hari terakhir yaitu tanggal 19 Mei 2011 di Basement Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai pembuka diadakan bedah novel “Taman Api” karya Yonathan Rahardjo. Pembicara pada bedah novel ini yaitu Toga Tambunan dari Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI), Soffa Ihsan (Kritikus Novel), dan tentu saja Yonathan Rahardjo, penulis novel tersebut. Setelah acara bedah novel selesai, dilanjutkan pembacaan puisi dari berbagai komunitas, penampilan tari dari Keluarga Mahasiswa Minang (KMM), penampilan musik dari VOC (Voice of Community), dan seni teatrikal yang menceritakan tentang si Hijau, si Merah, si Putih, dan si Biru yaitu sekelompok orang yang berpedoman pada prinsip yang berbeda-beda, seperti “Yakin Sampai”, “Revolusi”, “Subhanallah”, dan “Reformasi Perjuangan”. Seni ini ditampilkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada acara penutup, dilakukan pemotongan kue Hari Jadi KOLEKAN oleh Saeful Bachri sebagai Ketua KOLEKAN. Potongan kue yang pertama diberikan kepada Ade ‘Faiz’ Faisal Alami sebagai pendiri dan Ketua KOLEKAN yang pertama, dan kue kedua diberikan kepada Aden ‘Gembel’ selaku pendiri sekretaris KOLEKAN yang pertama.

Sebagai penutup, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang mendukung atas terlaksananya acara tersebut.


Minggu, 21 November 2010

SEKILAS TENTANG KOLEKAN

Komoenitas Lesehan Keboedajaan (KOLEKAN) adalah wadah bagi kawan-kawan yang ingin tahu lebih jauh tentang kebudayaan, memahami, serta melestarikan kebudayaan itu sendiri, sebagai identitas mereka sebagai manusia berperadaban.

Komoenitas Lesehan Keboedajaan (KOLEKAN) berdiri pada tanggal 24 April 2008 di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berawal dari kegelisahan yang dialami mahasiswa karena kurangnya kajian-kajian tentang kebudayaan dan tidak adanya wadah untuk mengekspresikan bakat-bakat yang dimiliki oleh mahasiswa. Dan pada waktu itu keadaan kampus UIN sangat sepi akan diskusi. Komoenitas Lesehan Keboedajaan yang akrab disebut KOLEKAN menginginkan budaya pribumi tetap terpelihara sebaik mungkin, karena kami sungguh menyayangkan apabila budaya yang ada kembali diperebutkan kembali oleh Negara lain.

KOLEKAN mempunyai slogan “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya” didirikan oleh beberapa mahasiswa, dan Sdr. Ade Faiz Faizal menjadi ketuanya dengan sekretarisnya yaitu Sdr. Aden ‘Gembel’ Senja, selain itu ada juga beberapa mahasiswa yang terlibat sebagai pendirinya yaitu, Ryo Satryo dan beberapa mahasiswa lainnya.