Rabu, 10 September 2014

BENYAMIN SUEB SI ANAK KAMPUNG ASAL BETAWI



Gambar dari: infoogue.blogspot.com

Oleh: *Azami Mohammad

“Anak Betawi… ketinggalan jaman, katenye. Anak Betawi… ngga berbudaye, katenye.. Penggalan lagu tersebut adalah soundtrack Si Doel Anak Sekolahan yang tenar di dunia perfilman pada tahun 1972 hingga awal tahun 2000-an yang disutradarai oleh Sjuman Djaja. Dalam gubahan lagu tersebut tentu saja banyak orang Betawi yang tersinggung dan lantas bertanya-tanya, kenapa kita sebagai orang Jakarta (metropolitan) asli dibilang ketinggalan jaman? Kenapa bukan orang Jawa atau Sunda? Dan masih banyak yang terbesit dalam benak orang Betawi mengenai gubahan lagu ini.

Asal punya usul, ternyata lagu tersebut adalah jawaban daripada cibiran-cibiran yang selalu dilontarkan kepada orang-orang Betawi. Memang jika dibandingkan dengan suku-suku lainnya yang ada di Indonesia, Betawi tak seseksi Minang, Jawa, Bali, Bugis, dan lainnya dalam obrolan tradisi dan kebudayaannya. Namun pada perjalanannya, muncul seorang seniman ‘nyentrik’ asal Betawi yang lahir pada tanggal 5 Maret 1939. Ya, orang tersebut bernama lengkap Benyamin Sueb tokoh seniman dari Betawi. Benyamin yang akrab disapa Bang Bens ini adalah seorang pelawak, actor, pemain lenong, sutradara, dan penyanyi. Hal ini menepis citra orang Betawi yang dikatakan ketinggalan jaman dan tidak berbudaya seperti dalam gubahan lagu Si Doel Anak Sekolahan tersebut.  

Benyamin kecil adalah seorang anak jahil yang periang. Terlahir dari keluarga Betawi pinggiran yang tidak kaya, Benyamin kecil sudah turut membantu keluarganya dengan mengamen keliling seputar kampungnya. Banyak orang yang memujinya dikarenakan memiliki suara yang khas dan gayanya yang humoris. Pada masa mudanya, Benyamin mulai memahami bahwa budaya lokalnya (Betawi) adalah identitas kebanggaan bagi dirinya. Sebelum namanya melambung di jagad entertain di Indonesia, Benyamin muda hanyalah seorang pemain lenong panggilan. Ia juga pernah menjadi tukang roti dorong dan kenek bis. Setelah menikah dengan gadis bernama Noni pada tahun 1959, barulah Benyamin kembali menekuni dunia musik. Karir musiknya melejit saat Ia bergabung dengan grup musik Naga Mustika. 

Apa yang teristimewa dari musik Benyamin? Pada tahun 1960-an, Soekarno melarang segala bentuk westernisasi di Indonesia. Ketika itu sedang gandrung music-musik import di kalangan kawula muda Indonesia, maka music yang berbau Barat pun dilarang oleh Soekarno. Namun, ketenaran musik adat tradisional memang sudah terlihat kalah pamor dengan music modern. Benyamin melihat gambang kromong yang kala ia kecil amat populer, kini tak sepopuler dahulu kala. Gambang kromong hanya dimainkan saat pentas lenong dan hajatan saja. Hal ini membuka matanya untuk memainkan kembali keroncong Betawi dan gambang kromong dengan perpaduan music modern. Seketika musiknya meledak di pasaran. Namanya pun terkenal di Indonesia sebagai musisi Betawi modern. Tak ayal Benyamin diacungi jempol oleh gurunya, seniman terkenal Bing Slamet.

Benyamin tak sekedar bermain musik. Lagu-lagunya sarat akan pesan moral, seperti lagunya yang berjudul ‘Kompor Meleduk’ Benyamin menyentil kebiasaan warga Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya yang suka membuang sampah dan enggan membersihkan lingkungan sekitarnya. Ia juga cinta kebudayaannya, lagu-lagunya tak melepas aksen Melayu Betawinya yang memang sengaja ia perdengarkan kepada khalayak. Benyamin juga seakan ‘pamer’ dengan kebudayaan Betawinya. Lagu ‘Ondel-ondel’ adalah buktinya, ia meluapkan kebanggaan kebudayaan Betawinya lewat musik. 

Dari pemain lenong menjadi pemain layar lebar. Ya, itulah Benyamin, orang Betawi yang jadi artis film. Di kemudian harinya, orang-orang Betawi banyak yang menjadi actor yang memang berbakat sebelumnya dalam aktor lenong. Bahasa ceplas-ceplos khas Betawi, gaya ‘nyentrik’ Benyamin yang kocak membuat ia disukai penikmat film di Indonesia. Maka puluhan filmnya ‘bolak-balik’ masuk bioskop layar lebar. 

Pada tanggal 5 September 1995, Benyamin menghembuskan nafas terakhirnya. Ia mendadak terkena serangan jantung sehabis bermain sepak bola. Memang Benyamin bukanlah tokoh terkenal Betawi seperti Pitung, Husni Thamrin, Raden Saleh, Bing Slamet dll. Namun dalam kalangan masyarakat Betawi, Benyamin adalah sosok orang Betawi sebenarnya yang lantang ingin terus menyuarakan bahwa masyarakat Betawi bukanlah nostalgia Jakarta belaka. Dibalik megahnya metropolitan, disana terdapat sekelompok masyarakat yang ketinggalan jaman dan ‘gak berbudaye’ Katenye.
*Penulis adalah anak Betawi asli
Reaksi:

1 komentar: