Rabu, 30 Oktober 2013

WR Supratman Dalam Seni dan Perjuangan

Gambar dari: www.ide2gue.co.vu

Muhammad Nur Azami



Seni pada hakikatnya adalah suatu karya yang berasal dari akal yang memiliki suatu  nilai yang luar biasa. Antara seni dan perjuangan terdapat hal-hal yang kontradiktif akan pemaknaannya. Jika perjuangan mengandung makna usaha yang keras dan berkelahi, lain halnya dengan makna seni yang berarti halus dan mengandung nilai estetika.

Para pemuda Indonesia telah menerapkan nilai-nilai seni dalam perjuangan mereka. Kongres pemuda II yang dilaksanakan pada tanggal 28 oktober 1928 terdapat seorang aktor yang dapat memainkan kedua peran itu, Wage Rudolf Supratman adalah sosok aktor tersebut. Sosok krusial yang mengkaryakan lagu Indonesia Raya yang penuh dengan makna Nasionalisme, Patriotisme serta persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ketika para pemuda berikrar bahwa mereka bersatu dalam satu kesatuan tanah air, bangsa dan menjunjung bahasa Indonesia sebagai jati diri Indonesia dalam kongres pemuda II. Maka lahirlah  Sumpah Pemuda yang memberikan makna tersendiri akan nilai-nilai perjuangan yang terdapat unsur estetika di dalamnya.
Melalui gesekan biola yang dilantunkan oleh WR Supratman dihadapan para peserta kongres, sosok yang dilahirkan di Jatinegara, Batavia, 9 Maret 1903 tersebut menampilkan dirinya sebagai tokoh seniman yang turut andil dalam perjuangan pemuda Indonesia sekaligus komposer dibalik lagu Indonesia Raya.

Maka ketika para tokoh pemuda maju menyampaikan pidato politiknya dengan semangat bergelora, lain halnya dengan WR Supratman yang unjuk gigi melalui kapasitas seorang seniman yaitu melantunkan lagu Indonesia Raya yang sontak membuat peserta kongres hening dan membakar semangat di dada mereka.

Kongres Pemuda II merupakan moment bersejarah lahirnya Sumpah Pemuda dan juga pelantunan pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Lagu yang dilegalitaskan oleh Indonesia sebagai lagu kebangsaan. Pada saat pembubaran panitia kongres pemuda II, barulah lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara koor diiringi oleh biola. Pada saat pembukaan kongres PNI kedua pada tahun 1929 lagu Indonesia Raya kembali dinyanyikan, pada akhirnya ditetapkan sebagai lagu kebangsaan sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 diproklamirkan.

Kehadiran nilai-nilai seni dalam perjuangan mengajarkan kepada para generasi bangsa bahwa dalam berjuang bisa melalui media apa saja. Siapa sangka WR Supratman yang hanya kita kenal sebagai composer lagu Indonesia Raya ternyata memiliki keterkaitan dengan moment bersejarah Sumpah Pemuda.
Melalui music WR Supratman memberikan pesan bahwa berseni kita dapat mengungkapkan perasaan-perasaan, gagasan-gagasan, serta harapan yang dapat kita berikan melalui media tersebut. Melalui musiknya juga semangat perjuangan, cinta tanah air, serta persatuan dan kesatuan dapat terikat secara emosional bagi bangsa Indonesia.

Berbanggalah para pemuda Indonesia dewasa ini, dengan memiliki para tokoh pemuda yang luar biasa. Peristiwa Sumpah Pemuda hendaklah dijadikan sebagai sebuah momentum untuk para pemuda saat ini bangkit dari keterpurukan. Dekadensi moral dengan maraknya peristiwa seks bebas, kasus narkoba, juga perpecahan para pemuda dengan maraknya kasus tawuran dan perkelahian merupakan hal yang amat memprihatinkan bagi Negeri permai ini.

Spirit Sumpah Pemuda sudah tidak relevan lagi dengan para pemuda saat ini. Jiwa seniman dan pejuang WR Supratman kini, tak lagi dimiliki oleh pemuda Indonesia. Musik pop korea dengan berbagai Boy Bandnya, Musik metal dengan segala style-nya, menjadikan music hanya sebagai media ikut-ikutan saja. Masih relevankah spirit Sumpah Pemuda saat ini? Masih terjagakah esensi seni yang dimiliki oleh WR Supratman saat ini? Bangkitlah pemuda Indonesia. Bangunlah Jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

0 komentar:

Posting Komentar