Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Besar dan Kecil

Sumber Gambar: Google
 
Ef Suma

Kecil terinjak yang besar , itu wajar
Tapi bukan fungsinya
Besar menginjak yang kecil
Tapi bukan tugasnya
Kekuatan adalah kuasa
Tapi bukan tanpa kelemahan
Kekuasaan adalah dua permainan
Membunuh atau di bunuh
Kehancuran adalah nasib
Kalau tidak pandai bersih-bersih
Kalau tidak pandai bagi-bagi
Dan kalau…kalau…kalau…
Tidak berpihak

Salam
Jakarta 07 Februari 2014

Pahit Kopiku


Sumber Gambar: Google

Pahit kopiku sayang
Karena aku menukan aroma manis yang kelak kita nikmati
Dengan kehangatan waktu yang selalu ditunggu untuk dinikmati
Kita berdua akan manis ketika pahit sudah biasa dinikmati
Engkau mesti tahu bagaimana kopi menghabiskan waktuku?
Menyulam segala kehidupan yang kelak pasti indah
Engkau tahu bagaimana kopi mempertemukan kita?
Dalam satu niat untuk menjalani kebahagiaan cinta
Engkau tahu bagaimana kopi mengenalkan kita pada kehidupan yang luas?
Karena selalu ada pertemuan dan pertemuan
Engkau tahu kopiku pahit sayang?
Bukan lantara menolak manis
Karena menurutku kita akan manemukan manis ketika pahit pernah kita nikmati
Jangan bosan sayang kalau aku terus menjawab dengan bahasa kopi
Kalau boleh aku mengibaratkan cinta dengan gelas kopi
Antara aku dan kamu telah menjadi kopi, pasti kamu tolak
Tapi aku akan memaksamu agar kita menjadi kopi
untuk keindahan pertemuan yang harmonis
untuk hilangnya perselisihan
untuk manisnya persahabatan karena kebersamaan ngumpul sambil ngopi
untuk perubahan karena merencanakannya menghirup aroma kopi
untuk cinta karena keharmonisan antara pahit dan manis bertemu
apa masih tidak mau hubungan kita disamakan dengan kopi?
pasti tidak!
kamu akan berusaha menyamakan dengan taman dan bunga-bunganya
atau dengan keromantisan Romeo dan Juliet
atau kamu akan memaksakan hubungan kita seperti sang pangeran dan putrinya
apa tidak cukup dengan kopi saja?
toh sama-sama menghasilkan keindahan
bahkan menurutku itu sangat romantis
dari apa yang pernah kamu ibaratan
bahkan lebih terdengar perjuangan
engkau tahu rapat perubahan anak-anak muda pasti ada gelas kopi?
yang saling berdenting, yang saling terisi kopi
mereka saling berusaha menemukan pencerahan setelah menikmati kopi yang ada
apa tidak bagitu revolusinya hubungan kita?
apa engkau tahu ada bahasa revolusi datang dari warung-warung kopi?
kalau sudah begitu apa masih belum cukup di bilang romantis revolusioner?

karena hubungan kita adalah segelas kopi
mau kan sayang?

Salam Ef Suma
Jakarta, 16.11.2014

Minggu, 13 April 2014

SAJAK NGAWUR 2014


14 Februari 2014

BUMM… 2014!!!
Pett…pett… Dam, Dam…Duar!!!
Riuh gelegar euforia suka cita melebur
Tahun baru datang, tahun baru datang…
Mereka senang! Mereka gembira! Mereka tak tahu diri! Mereka sedih!
2014? Mari hambur-hamburkan kertas sakti
Padatlah taman, padatlah pantai, padatlah lapangan, padatlah pekarangan rumah
Mereka senang…
Mereka gembira…
Kursi… Lagi-lagi mereka gembira berebut kursi
Merah, Kuning, Hijau, Biru, Oranye, Hitam
Kusam!!! Semua terlihat kusam
Blarr… Buss… Tikk… Tikk
Ohh, isyarat awan yang merindukan bumi, menjadikannya hujan
Rindu… Awan tak henti-hentinya mencumbu bumi
1, 2, 3…
Jakarta tergenang, Jawa Barat tergenang, Jawa Tengah tergenang, Jawa Timur tergenang, Manado tenggelam
Indonesia tergenang…
Tenda itu penuh, kolong jembatan itu penuh, balai desa itu penuh, masjid itu penuh, gereja itu penuh, sekolah itu penuh. Yang tersisa hanya pinggiran jalan tak ber-alas
Tapp… Tapp… Oyy… Oyy!!!
Mereka datang, makanan digenggam…
Tidakk!!! Kenapa ini berlogo Merah, Kuning, Hijau, Biru, Oranye, Hitam
Busukk!!! Wajahmu yang tertempel teramat busuk!!!
Saudaramu menjerit, citramu melejit
Mereka tak tahu diri…
Mereka sedih…
Bumm… Duarr… Whuss… Aaaaa!!!
Gunung-gunung meletus
Hujan air, Hujan batu, Hujan abu, Hujan es batu
Awan panas mencari teman, mengajaknya menari… Liuk lenggoknya gemulai sesuka hati
Bencana alam, bencana alam!
Bukan…
Bencana alam, bencana alam
Sekali lagi, Bukan!!!
Ini sabda alam… Metode alam membentuk keseimbangan
Alam tak mau lagi bersahabat dengan manusia
Maukah manusia bersahabat dengannya?
…, …, …
Sadarlah… Hey kau yang diatas mimbar! Jangan kau injak kepala saudaramu
Sadarlah… Hey kau yang katanya wakil Tuhan di dunia! Jangan kau beli semua kemewahan itu
Ahhh… Siapa kau? Kalian? Aku? Kamu?
Melamun… Tertawa… Ahh, Ternyata Tuhan  tak mengenal tanah pertiwi

Azami Sparrow

Senin, 10 Februari 2014

Karya Anggota KOLEKAN




NEGERI KAMBUHAN
Negeri bersih yang menjijikan
Tak pernah kau waras dari kejijikanmu
Kisah cinta tak laku roman murahan jadi imporan
Ohh… Begitulah apa adanya Negeriku!!!
………
Sebuah Kesunyian yang tak bertuan
Entah, entah, entah, entah, entahlah
Sampai hatiku miris, teriris, mengkikis
Hancur, bangkit, hancur, bangkit, dan aku pun risau
...........
Sampai kapan Negeriku seperti ini
Lalu, terhempas aku dalam kenistaan…
Aku tak mengerti
Hingga asap hitam pekat membangunkan jiwaku yang sempat terkantuk

#Puisi ini di composer berantai oleh anggota KOLEKAN saat acara Culture Camp Sabtu, 30 November 2013


puisi


                                                                    

                                                                     HARAPAN SEMU

1# Menatap garis-garis kehidupan sambil merenungi tanah kelahiran
     Berdiri sejarah mencatat semenjak Nusantara hingga Indonesia raya
     Entah bangga atau kecewa melihat  beban di pundak sang garuda
     Lalu, Tersenyum ringkih aku melihat sayap gagahmu yang mulai rontok

2# Berjuta-juta laskar pinggiran berteriak akan kesejahteraan
     Namun, semuanya tanpa makna dan harapan
     Berjuta-juta laskar blusukan bernyanyi akan kepancasilaan
     Namun, semuanya tanpa makna dan harapan

3# Menerobos jurang-jurang kesuraman dengan tekad dan semangat pengharapan
     Tegak sejarah mencatat semenjak proklamasi hingga reformasi
     Menangis aku melihat sang saka
     Terhempas menjauh sang garuda, Ia mendengkur tanpa makna dan harapan

Azami

Puisi


SENYUM

 Berdiri di ujung harapan, berlari mengejar impian. Ah terlalu utopis.
Bekerja sepenuh hati hanya untuk ridlo ilahi, Ah terlalu teoritis
Membangun daerah tanpa ada rasa lelah, Ah hanya secuil omongan manis
Menyatukan perbedaan dalam satu rasa persamaan, Ah  itu bualan yang kau lukis
SKEPTIS

Tapi,......
Aku lupa 
Hidup hanya permainan dan sebatas gurauan
Aku lupa
Lautan ilmu kami lebih sedikit dari kuah bakmi

Aku lupa
Ada khoitul abyad setelah khoitul aswad
Aku lupa
Konstelasi jalan hidup sebagian muhkamat  yang lain mutsyabihat
Aku lupa
Datang langit lazuardi setelah malam sunyi
PAHAMI

Saat ini dialah korban diatas tujuan, Edan
Tumbal bagi pikiran-pikiran kumal, Gombal
Ejekan yang dianggap lawakan, Setan
Dihina karena dianggap tak berguna, Gila
Cahaya purnama yang tertutp asap dupa,
NESTAPA

Dan......
Akhirnya
Benih-benih baru  menentang takdir yang kelabu
Akhirnya
Turbulensi melahirkan pola-pola  penuh presisi
Akhirnya
Berdiri jendral di depan mereka yang mulai kehilangan akal
Akhirnya
Gelombang pasang, surut menghilang
Akhirnya
Perang yang berdentum berganti dengan jutaan senyum

 Bergerak dengan senyum
Berhimpun dengan senyum
Hidup dalam ikatan penuh senyum
Bersatu dan beraksi dengan senyum
Bangkit dan menebar senyum

Dan diantara senyum-senyum yang tersenyum ada satu senyum yang membuat diriku tersenyum pada senyum itu............ENTAH


HUSNUL FIKRI / Buah Tangan Kaki Langit
Ditulis untuk sebuah refleksi                                                                                                                                                                                                     

Senin, 03 Februari 2014

Puisi Ngawur




SOMBONGNYA API DITERKAM HUJAN
1#

Setitik api masih berkobar disana
Menggaung-gaungkan keangkuhannya tiada henti
Ah… Betapa marahnya aku melihat keangkuhanmu
Seakan mengejekku diantara kobaran-kobaranmu

2#
Hutan di bumi pertiwi menjerit
Menjadi korban tak berdosa atas ulah manusia serakah
Hutan bumi pertiwiku hanya tersenyum ketika badannya kau habisi
Dengan keserakahan dalam dirimu, wahai manusia

3#
Rintik hujan menyemai menenangkan keangkuhan sang api
Mencoba menghibur sang hutan  yang terus menangis
Dasar manusia, hanya kugelengkan kepalaku

#Azami Sparrow

Selasa, 10 Desember 2013

PUISI (HUSNUL FIKRI)



     Husnul Fikri                                                                                                                 9 Desember '13


Kacamatamu

Langit murung senja menangis
Kepulan harapan membumbung
Sisa asa hitam terpanggang
Ular besi menggelepar
Kancil kecil terguling meledak

Mendung diatas lintasan baja penuh
Ribuan doa menyatu menggumpal
Hujan ratapan membasahi tangis yang berkobar

Kuputar kembali rekaman masa lalu
Sekali lagi palang pintu persimpangan membisu
Ditengah kontemplasiku kulihat kacamatamu
Istighfarku berlalu

Sabtu, 17 September 2011

Nyai

Ale

Tak satupun yang tertepi

Dari apa yang kau miliki

Hidungmu lain

Matamu lain

Kulitmu lain

Gigimu juga lain

Meskipun kau diracik dari sari segala

Nampak tak serupa rupa adanya

Senyummu merekah memesona

Sanggulmu mekar bak bunga

Langkahmu yang anggun

Sapamu yang santun

Yang paling membedakan dari yang lain

Jemari lentikmu yang lincah meramu

Akar kasih sayang dan batang ridu

Menjadi penawar dahaga batin

Oh, Nyai

Karenamu aku semakin buta

Buta warna

Buta rasa


Ciputat 5 juli ‘11

Sabtu, 11 Desember 2010

Akulah Ego (Sejatinya)

Herry Flawless

Sejatinya kau tak perlu merah, putih, atau bahkan warna pelangi dariku...

Karena kaulah anggur pembawa gairah dan kemarahan.

Aku tuangkan ke dalam wadah pengharapan hingga tak seorangpun akan meminummu.

Sejatinya kaulah tetes air dan samudera yg tak akan pernah habis.

Sejatinya kaulah permata yg terpendam dalam dada ini.

Sejatinya kaulah debu dan angin yg menghembuskan aroma kegairahan.

Sejatinya kau adalah kau yg memberikan rasa itu.

Tak seorangpun boleh mencicipimu kecuali aku.

Sehingga aku saja yg larut dlm kemabukan itu.

Sejatinya kaulah merah yg mmbawa keberanian.

Sejatinya kaulah putih yg mnyebarkan kesucian.

Kau adalah kau yg mmancarkan warna pelangi.

Semoga bintang akan tetap jadi bintang.

Aku akan tetap jadi aku.

Kau akan tetap jadi kau.

Tidak pernah jadi peran yang bukan perannya.

Tidak berubah oleh keadaan apa pun.

Tidak tertekan oleh panasnya situasi.

Kamis, 28 Oktober 2010

Bangun

Hai…

Sampai kapan kau pukuli jiwa dan pikiranku

Dengan kebodohan yang terus kau lantunkan

Sampai kapan kau tidurkan aku

Dan terlelap tidak sadarkan diri

Dan terbangun dengan kebodohan yang engkau ciptakan

Hai…

Sampai kapan kau diam

Bangun…

Bangun…

Bangun kawan…bangun

Lihatlah sekelilingmu

Mereka sudah ciptakan kekonyolan

Tentang tingkah dan kebodohan

27 April 2010

Acara Peringatan Wafatnya Pram (icha kolekan)