Senin, 01 Desember 2014

Pahit Kopiku


Sumber Gambar: Google

Pahit kopiku sayang
Karena aku menukan aroma manis yang kelak kita nikmati
Dengan kehangatan waktu yang selalu ditunggu untuk dinikmati
Kita berdua akan manis ketika pahit sudah biasa dinikmati
Engkau mesti tahu bagaimana kopi menghabiskan waktuku?
Menyulam segala kehidupan yang kelak pasti indah
Engkau tahu bagaimana kopi mempertemukan kita?
Dalam satu niat untuk menjalani kebahagiaan cinta
Engkau tahu bagaimana kopi mengenalkan kita pada kehidupan yang luas?
Karena selalu ada pertemuan dan pertemuan
Engkau tahu kopiku pahit sayang?
Bukan lantara menolak manis
Karena menurutku kita akan manemukan manis ketika pahit pernah kita nikmati
Jangan bosan sayang kalau aku terus menjawab dengan bahasa kopi
Kalau boleh aku mengibaratkan cinta dengan gelas kopi
Antara aku dan kamu telah menjadi kopi, pasti kamu tolak
Tapi aku akan memaksamu agar kita menjadi kopi
untuk keindahan pertemuan yang harmonis
untuk hilangnya perselisihan
untuk manisnya persahabatan karena kebersamaan ngumpul sambil ngopi
untuk perubahan karena merencanakannya menghirup aroma kopi
untuk cinta karena keharmonisan antara pahit dan manis bertemu
apa masih tidak mau hubungan kita disamakan dengan kopi?
pasti tidak!
kamu akan berusaha menyamakan dengan taman dan bunga-bunganya
atau dengan keromantisan Romeo dan Juliet
atau kamu akan memaksakan hubungan kita seperti sang pangeran dan putrinya
apa tidak cukup dengan kopi saja?
toh sama-sama menghasilkan keindahan
bahkan menurutku itu sangat romantis
dari apa yang pernah kamu ibaratan
bahkan lebih terdengar perjuangan
engkau tahu rapat perubahan anak-anak muda pasti ada gelas kopi?
yang saling berdenting, yang saling terisi kopi
mereka saling berusaha menemukan pencerahan setelah menikmati kopi yang ada
apa tidak bagitu revolusinya hubungan kita?
apa engkau tahu ada bahasa revolusi datang dari warung-warung kopi?
kalau sudah begitu apa masih belum cukup di bilang romantis revolusioner?

karena hubungan kita adalah segelas kopi
mau kan sayang?

Salam Ef Suma
Jakarta, 16.11.2014
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar