Kamis, 28 Oktober 2010

SABUNG MIMPI


Wisnu “nunu” Purbaya


Hoaaaahmmm….ngantuknya kuliah hari ini, ingin rasanya aku lelap dalam dekapan selimut. Ternyata jumlah sks yang aku ambil di semester ini terlalu banyak sehingga membuatku cepat lelah, tapi biarlah yang penting target cumlaud bisa tercapai. Aku merebahkan diri sejenak di ruang tamu sambil menonton acara televisi favoritku yaitu pagelaran wayang kulit. Kebetulan cerita hari ini berkisah tentang Raden Gatotkaca mencari istri yang dibawakan oleh dalang kondang asal Indramayu yaitu bapak Suwito.

Lagi asik-asiknya menonton sambil mata agak sedikit terpejam karena tak tahan menahan rasa kantuk stadium akhir tiba-tiba listrik padam. Entah apa yang terjadi di dalam pikiranku ketika itu, yang aku ingat hanyalah perjalanan seorang pahlawan yang mencari jodohnya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku dan naluri alamiah manusia yaitu rasa keingintahuan yang besar dari dalam diri bergejolak, akupun beranjak dari tempat tidur untuk memastikan apa yang tengah terjadi saat itu.

Aku keluar melalui pintu samping untuk melihat situasi di luar. Ternyata ada yang berbeda dari biasanya. Kebun di belakang rumahku berupah menjadi lebih gelap dan rimbun. Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju sungai agar semuanya bisa terlihat lebih jelas. Tiba-tiba ada seseorang kakek tua berpakaian aneh, berjenggot putih panjang hingga mencapai dada, mendekat dan berkata, “ngger, kenapa kamu masih berada di sini, bukankan kamu sedang mengikuti sayembara untuk mendapatkan sang putri Dewi Pergiwa?” Tanya kakek itu sembari tersenyum ramah. “anu kek, aku lupa jalan menuju arenanya”, jawabku sekenanya saja karena bingung mau jawab apa lagi.

“Baiklah mari aku antar”, sapa sang kakek ramah. Aku lalu beranjak pergi mengikuti langkah sang kakek menuju suatu arena yang tentunya aku tidak tahu arena apa itu.

Kebingungan melanda pikiranku. Sungguh aneh, kenapa di zaman modern ini masih ada sayembara? Bukankah sudah digantikan oleh kuis dan kupon undian? Ah terserah deh, daripada mikirin hal yang ga jelas mending aku ikutin aja kakek ini, siapa tahu aku dapet ilmu yang luar biasa.

Langkah demi langkah aku telusuri. Tidak lama kemudian sampailah kami di arena yang diceritakan oleh kakek tadi. Tempat yang menyeramkan dan dipenuhi oleh orang-orang berpakaian aneh dengan mengenakan ikat kepala menghadap ke atas berwarna emas, dengan baju yang minimalis hanya menyilang diantara belahan dada kanan dan kiri, di tangannya terdapat ikat seperti perban namun berwarna emas dan sepertinya berbahan sama dengan ikat kepala yang dikenakan serta mengenakan celana pendek yang ditutupi oleh sarung setinggi lutut bercorak batik, persis pakaian yang dipakai oleh orang-orang keraton. Hampir semua orang yang ada di tempat itu mengenakan pakaian yang sama.

Aku bergerak mendekat arena tersebut dan ternyata itu adalah arena pertempuran, dimana dua orang saling beradu kekuatan dan kesaktian, bergantian dengan yang lainnya yang mengikuti sayembara tersebut. Kekek itu kemudian berkata, “nah, di sinilah seharusnya kamu berada ngger”.

“Apaan ini kek?” tanyaku heran.

“ini adalah tempat dimana seorang laki-laki menunjukkan kelelakiannya untuk memperebutkan putri Arjuna yang bernama Pergiwa”, jawab kakek.

Dalam keadaan tak sadar aku mengikuti intruksi sang kakek untuk maju dalam sayembara, dan satu persatu dari para peserta aku kalahkan hingga akhirnya aku sampai di babak final.

Di babak final aku bertemu dengan seorang yang kekuatannya maha dahsyat. Orang-orang memanggilnya Laksamana Mandrakumara putra Duryudana dari keluarga Kurawa. Sungguh kekuatannya maha dahsyat sehingga pertempuran antara aku dengannya berjalan dengan durasi yang panjang dan pertandingan harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Dengan terompah Padakacarma yang melekat pada kakiku, akhirnya aku bisa mengalahkan Laksamana Mandrakumara dengan tendangan maut. Laksamana Mandrakumara terhempas jauh dari arena dan menyatakan menyerah. Penonton bersorak riuh dan memanggil namaku dengan teriakan “HIDUP RADEN PURBAYA !!!” berkali-kali dan terdengar hingga ke pelosok negeri ini.

Akupun dipanggil oleh seorang yang menyelenggarakan sayembara tersebut dan ternyata bernama Raden Arjuna yang merupakan pamanku sendiri.

“Selamat nak, engkau sudah aku ramalkan sebelumnya bahwa engkau pasti akan memenangkan sayembara ini dan engkau berhak mendapatkan hadiah seorang putri yang tidak lain adalah putriku sendiri, yaitu pergiwa”.

Dengan perasaan yang tak yakin aku mendekat dan menatap Pergiwa yang cantik jelita dengan matanya yang tajam menatapku sembari tersenyum manis dan mendekat, berdiri tepat di depanku. Seketika aku diam dan terpaku melihat hal ini. Lalu Pergiwa memelukku sembari berkata, “akhirnya kamu menang, dan aku memang mengingikan kamu yang menang karena aku mencintai kamu”.

Pelan-pelan aku melepaskan pelukan itu dan kembali menatap wajahnya dang dipenuhi oleh pancaran kharisma yang berbeda dengan wanita lain. Dia memiliki wajah yang begitu sempurna, dihiasi oleh mata yang tajam bersinar cerah, hidung yang macung seakan-akan ingin menyentuh hidungku, bibirnya yang tipis tersenyum manis sehingga terpancarlah keseksiaannya.

Lagi asik-asiknya menatap Pergiwa, tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras dari langit, “DUARRRR !!!”. Kemudian aku terjatuh dan seketika pancaran cahaya yang menyilaukan menusuk mataku. Beberapa saat kemudian cahaya itu pudar dan terlihatlah sesuatu benda berbentuk kotak dengan cahaya yang sedikit redup dibandingkan dengan cahaya tadi. Antara sadar dan tidak sadar aku kembali mendengar suara dalang Suwito dan beliau berkata dalam bahasa jawa kuno yang artinya, “berakhirlah kisah perjalanan Gatotkaca yang dalam cerita ini dikenal dengan nama Raden Purbaya yang mencari calon istri”.

Sejanak aku berfikir dan bangkit untuk duduk. Hahahahaha….rupanya aku bermimpi. Ah, seandainya saja mimpi itu benar, aku pasti akan bahagia karena memapunyai kekasih yang cantik jelita seperti Pergiwa. Ah, semua itu hanyalah mimpi.

Reaksi:

1 komentar: