Kamis, 28 Oktober 2010

Potret Ayah


-->
Hanya potretmu yang menjadikan perisai dalam hidupku.
Ef Suma

-->
Dalam bingkai kehidupan terkadang ada keindahan dan keburukan dalam perjalanan seorang manusia. Dan sering terdengar dalam dengung telinga, kita harus melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru, namun bagiku terlalu sombong ketika kita harus melupkan semua itu tanpa harus mengenangnya. Karena bagiku itu adalah sebuah karya sulaman yang terbingkai rapih yang bigitu sangat mahal harganya, Entah senyum, raga, ataupun pribadinya.
Ahir-ahir ini wajah itu yang selalu menjadi bayang-bayang dalam keseharianku, walau kami belum pernah tegur sapa, apalagi bercanda berdua dengannya.
Ia selalu duduk disana, ditaman belakang rumah. Sering kali ia menyandarkan kepalanya dipohon, membiyarkan jilbab indah yang dipakainya itu kotor, seakan ia tidak peduli dengan dirinya. Ia selalu menatap, salalu menatap tumbuhan hijau yang ia lihat dari luar pagar rumah itu. Seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu yang besar. Seperti itu, selalu seperti itu setiap harinya.
Awalnya kupikir itu hanya kebetulan. Dan tentu aku menduga serupa itu sebab baru kali itu ia ditaman Belakang rumah. Telah berapa lamakah aku menghabiskan hari-hariku disini? Satu bulan, empat bulan, atau mungkin telah satu tahun. Aku sendiri hampir lupa barapa lama aku menghitung waktu untuk sesuatu yang disebut pekerjaan yang pastinya, baru kali ini aku melihatnya disini, di taman belakang rumah dekat pagar putih tetangganya itu, tempat langganan disaat aku ingin merenung karena disitu tempat yang aku rasa nyaman, selain dekat kolam ikan juga banyak tumbu-tumbuhan hijau.
Ia selalu duduk didekat pohon asem itu. Setiap kali aku melihat ia duduk ditempat itu selalu merenung. Dan nyaris tidak pernah tegur sapa denganku walau aku sering lewat ketika aku pulang dari tempat kerjaku. Matanya selalu focus memandang pohon-pohon dan pemandangan indah diluar pagar itu, seolah-olah ia sedang menghitung barapa pohon dikebunnya dan kebun tetangganya. Ah, tidak. Tentu ia sedang menunggu seseorang.
Ya, mungkin ia tengah menunggu kakasihnya? Suami, teman rekan bisnis. Ah aku lebih yakin ia menunggu kekasihnya. Mungkin mereka telah berjanji untuk bertemu dikebun ini. Sayangnya duga itu harus kubuang jauh-jauh, batapa seseorang mau menunggu kakasihnya menepati janji kencan mereka? Satu hari, satu minggu, satu tahun, atau mungkin perempuan itu telah satu tahun setia menunggu disini.
Saban petang diantara jam empat samapi enam, ah tentu ia seorang kakasih yang setia.
Namun, lama-lama aku menjadi iba terhadap dirinya. Ah, tidak. Mungkin pula tertarik atas perilakunya. Oh. Tidak-tidak.aku, aku suka dengan wajau manis yang setia memandang indah taman itu, wajah yang manis tiba-tiba begitu banyak melontarkan tanya. Wajah yang tidak bosan dipandang itu mencuri perhatianku
Mulanya, aku tidak bisa memahami sesuatu yang ia renungkan dari wajah itu. Lalu, mataku menafsirkannya dengan begitu baik. Dan aku terhanyut, tersentuh hingga selalu rindu untuk mendengar cerita dari wajah polos itu.
Cerita pertama yang aku dengar dari wajah polos itu adalah alasan mengapa perempuan manis itu duduk disini, manatap pemandangan diluar pagar itu, dan memilih jam diantara pukul empat sampai enam petang?
Rupanya dugaanku sedikit benar. Ia sedang menunggu seseorang. Sayangnya, ketika kutanya siapa yang ditunggu? Wajah itu bungkam dan tidak ingin bercerita. Mungkin terlalu sukar baginya untuk menyebut nama seseorang yang ia tunggu itu.
Ketika aku tidak lagi memaksakan untuk menyebut orang yang ia tunggu itu, wajah itu kembali bercerita. Katanya, ia selalu datang untuk menjumpai seseorang, seseorang yang telah membuatnya bangga. Seseorang yang telah menorehkan sesuatu dihatinya. Ah, tentu itu cinta, tebakku. Wajah itu diam, cukup lama ia diam, mungkin ia mengingat atau merenungkan ucapan yang baru saja aku lontarkan. Apa mungkin itu cinta yang tertoreh disana?
Bisa jadi. Bisa jadi memang cinta yang tertoreh dihati, ujar wajah itu pelan, bahkan sangat pelan sekali nyaris aku sendiri tidak mampu mendengarnya
Aku tersenyum kecil mendengar itu. Ya, siapa yang sudi menunggu berhari-hari, berjam-jam untuk orang yang tidak begitu penting? Tentulah untuk cinta yang menyebabkan seorang perempuan menjadi bengong seperti pemilik wajah ini, rela menghabiskan setiap petangnya untuk menunggu seorang yang tidak pasti kapan datangnya. Cinta, cinta penuh misteri. Hanya alasan itu sajalah yang bisa membuat orang berbuat seperti itu.
Tentu seorang lelaki itu sangat tampan. Oh, apakah ia laki-laki? Ah wajah itu mengangguk pelan, seperti ada binar-binar meletup dan begitu bergairah didalam retina matanya, saat aku menebak laki-laki itu pastilah sempurna. Baru kali itu, ya, baru kali itu melihat wajah itu berbinar. Cantik dan terasa sangat hidup. Ah itu cukup meyakinkan bahwa tebakanku benar. Aku menebak seseorang yang ia tunggu. Pastilah tampan, jenius, yang telah mencuri hatinya. Oh ini kisah yang romantis dan mengharukan.
Tapi, bukan. bukan ketampanan yang menbuat ia tertarik kepadanya. Aku menjadi diam ketika wajah itu mengungkapkan hal itu.
Lantas apa penyebabnya? Apa wangi tubuh seseorang itu? Ya, ya, bisa juga. Bukankan perempuan suka dengan bau laki-laki? Bau yang menggelitik hidung dan mengguncangkan jantungnya. Oh rupanya bukan pula, wajah itu menggeleng, kalau bukan wangi tubuhnya, lantas apa? Aha, biyar aku tebak, pastilah poster tubuh. Apakah ia atletis? Dada bidang yang kekar, rahang yang kuat dan menonjol. Oh, perempuan memang akan tergila-gila dengan laki-laki yang rupa itu, wajah tampan apalagi? Tentu laki-laki itu sempurna.
Bukan pula! Lalu apa penyebabnya? Wajah itu tersenyum malu-malu, ah manis sekali ketika ia tersipu seperti itu.
Mata memang sesuatu yang indah dan sangat kuat untuk tidak berbohong.
Apakah mata laki-laki itu indah? Wajah itu mengangguk, ia melukiskan betapa indah mata laki-laki yang ia tunggu itu. Matanya coklat dengan bagian putih yang amat bersih. Mata yang begitu tajam, mata yang sangat pandai untuk memenuhi segala harapan yang ada, mata yang selalu membuatnya tidak sabar menunggu hari esok untuk berjumpa, mata yang menyemangatinya datang lebih awal, mata yang selalu mengajarinya untuk tidak lelah dengan segala hal. Ah, wajah itu kembali berbinar ketika ia menyebut keindaan mata yang ia tunggu, aku jadi membayangkan mata indah seseorang itu, pastilah sangat berwibawa.
Apakah matanya indah seperti matamu? Apakah wajahnya manis seperti wajahmu? Wajah cantik jelita yang tidak bosan dipandang, oh benarkah? Jauh lebih indah dari matamu dan wajahnya lebih mengagumkan dari wajah yang mempesonamu? Ah.wajah itu mengaguk dengan penuh keyakinan. Karena ia tahu mata yang ia tunggu lebih indah dan bahkan sangat tajam sorot matanya.
“Dimanakah seseorang yang engkau tunggu? Adakah kemungkinan ia akan kembali disisimu?” ia tidak menjawab namum Wajah itu mengisaratkan kebanggaan dan matanya menerawang jauh. Entah kali ini apa yang ia fikirkan tentang seseorang yang ia tunggu. Tentang kenyataan yang ia hadapi sekarang, tentang kebun yang ia pandangi setiap petangnya. Ah, sungguh kali ini aku dibuatnya tidak mengerti, dengan makna diamnya itu sampai-sampai aku dibuatnya penasaran untuk mengetahui tentang siapa yang dia tunggu.
Hari berikutnya aku datang kembali, dan seperti biasa ia tengah duduk bersender dipohon itu. menikmati petang dengan lamunan. Dan akupun seperti tidak ada bosannya kembali menanyakan tentang lelaki yang ia tunggu. Ia kembali tersenyum dengan pertanyaanku dan mulai bercerita. Aha, aku mulai tahu siapa yang ia tunggu. Namun dipertengahan cerita aku sangat tidak percaya dengan apa yang diutarakannya tentang lelaki yang ia tunggu dengan apa yang aku fikirkan. Akan tetapi aku tidak mau ia tahu dengan kekagetanku dengan menjadikanku bukan pendengar setia. Yang ternyata ia bukan menunggu seseorang namun hanya mengenang kehidupan seorang bapak yang dulu setiap petangnya menghabiskan waktu di kebun itu, yah dikuben itu. dan ketika itu pula ia menunjukkan lembaran foto yang setiap menjelang petang ia genggam itu, foto seorang bapak yang tegap dengan cangkul dan golok itu terlihat sangat bahagia, dan dibalik lembaran foto itu bertuliskan
Hanya potretmu yang menjadikan perisai bagiku dan keluarga yang mencintaimu.
Pantaslah kalau wajah itu begitu mencintai seseorang yang ia tunggu itu, sangat pantas. Akupun ingin melihatnya, namun sayang aku hanya bisa mendengar cerita tentangnya, karena dia sudah tiada setahun yang lalu. Ah, andai aku bisa langsung melihatnya mungkin aku lebih bahagia lagi dari sekarang. Tapi setidaknya aku beruntung bisa bisa mendengar cerita itu tentang dia.
Kini barulah aku pahami mengapa ia mau menunggu berhari-hari tentang seseorang yang ia tunggu itu. Menghabiskan harinya, menghabiskan waktu petangnya, menghabiskan kebersamaan dengan temannya. Sengguh sangat pantas kalau orang yang ia tunngu memiliki kepribadian yang sangat sahaja seperti itu.
Sejak jarum jam tepat di angka empat sore, sengaja aku lebih cepat datang karena aku ingin lebih lama lagi mendengarkan ceritanya tentang orang tua yang petang kemarin sempat tertunda karena waktu sudah keburu gelap.
Namun aku sekarang gagal manemukan wajah manis itu. entah apakah ia sudah lelah untuk menceritakan lelaki yang sangat sahaja itu ataukah iaan wajah manis yang membuatku ikut menyukai kebun ini.
Ah, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan setia menunggunya, mungkin bukan petang ini. Bisa jadi ia benar-benar sibuk dan tidak bisa datang pada petang ini. Mungkin petang besak dan besoknya lagi. dan aku tetap akan datang disetiap petang untuk menunggunya dan kembali mendengarkan ceritanya.
Ah sudah satu minggu aku datang ke kebun ini tapi dimana gerangan wajag manis itu. ia menghilang begitu saja tanpa meninggalkan kejelasan tentang keberadaannya, kenapa waktu itu juga aku tidak menanyakan alamat rumahnya, sehingga aku tidak kebingungan seperti ini, kenapa juga aku hanya menyebutnya ia, dan tidak menanyakan nama lengkapnya sehingga aku bisa menanyakan pada ibu-ibu yang berkumpul di pojok sana. Ah, sungguh aku menyesali kebodohanku waktu itu. andai aku bisa memutar waktu, aku ingin menanyakan segala sesuatunya tanpa aku bersikap bodoh seperti sekarang bahkan bila perlu aku ingin merasakan sendiri kebahagiaan yang begitu ia rasakan bersama dirinya tentang seseorang yang ia kagumi.
Entah sampai kapan aku menunggu kedatanganya disini, apakah sampai ia kembali? persis seperti halnya ia menunggu kedatangannya ketika aku belum mengetahui siapa yang ia tunggu. Andai saja aku dapat menemukannya aku ingin ia bercerita lebih lengkap lagi sehingga aku tidak menunggu-nunggu datangnya petang esok untuk kembali mendengarkan ceritanya. Ah, dimana kerudung putihnya yang berkibar itu, ataukah aku yang harus sadar diri karena aku bukan apa-apa dibanding yang ia tunggu tempo dulu.
Dan mungkin ia benar-benar tidak kembali di kebun ini untuk bercerita tentang dia, tentang dia, yang begitu ia kagumi senyum hangatnya, matanya, jiwanya yang begitu penuh kasih.
 
   
 
              fb: Bachri_15@yahoo.com



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar